Sabtu, 30 Juni 2018

Semut


Kau semut kan?
Atau apa....
Entahlah

Kakimu tak memberi suara.
Datang pergi tak ku dengar langkahnya.

Kau semut kan?
Atau apa....
Entahlah

Kemarin ku lihat kau mendekat, merapat, bahkan melekat.
Namun sekarang,,, kau menggigit sakit sepahit asa yang kau tinggal pergi menghilang.

Kau semut kan?
Atau apa....
Entahlah

Pemalang, 30 juni 2018

Rabu, 21 Maret 2018

Berbalik


(Bogor 12-03-18. Fahmi)

Diam.
Hening meradang ruang.
Membungkam semut berjalan panjang.

Diam.
Teduh menenang.
Membasuh peluh dalam kenang.

Ah sunyi..
Entahlah, atau apapun itu.
Diam.
Kini tak lagi meradang ruang.

Menggema.
Suaramu menggema.
Memecah hening kekang.
Merambat lewat dua rongga.
Mengantar khas wangi telaga.

Menggema.
Suaramu menggema.
Kini ruang tak lagi tenang.
Karenamu, kentutku sayang.

Jumat, 29 Desember 2017

Sajak Pujaan

Tak sempurna aku
Mengkhayal seluas laut biru
Bak kuntum kenanga
Wanginya menyerbak mengelana

Meski angin berpuyuh
Meski ombak menggulung
Luasnya dasar memukau setiap pandang
Bunga berias dan melajang

(fahmi)

Kamis, 21 Desember 2017

Sajak Luka

Lantai yang ku duduki
Kotor oleh janji yang diingkari
Ah ku sapu saja
Atau biarkan? percuma

Sama saja sejak awal
Baiknya tak perlu kau ucap iya

Ku duduk saja
Kau tersenyum, aku meluka
Ah ku sapu saja
Atau biarkan? percuma

Lantai yang ku duduki
Kotor oleh janji yang diingkari

(fahmi)

Sajak Penghujat

Dasar bodoh
Ini hati, bukan benda mati
Jangan kau main seenak diri

Ketika kau beri harapan
Tepati tanpa ada alasan
Bukan lari dengan kicauan
Seperti burung yang tidak tertawan

Ah mana tahu kau
Sakitnya harapan kau kebiri
Mana paham pula kau
Perihnya pinta kau khianati

Dasar bodoh
Ini hati, bukan benda mati

(fahmi)

Sajak Emosi

Bisa diam tidak?
Sayapmu mendengung di telingaku
Sekalipun kau membisu

Lihatlah,
Bingkai yang berserakan itu
Kau tahu tak enak hatiku

Ingin kuludahi saja
Semua janji yang terucap manja
Namun tiada pernah berupa

Sudahlah,
Tak perlu bertanya
Duduk dan dengarkan saja
Keluhanku tentang semuanya

(fahmi)

Sajak Karam

Ku buka kembali
Lembaran hati yang terkoyak sepi
Bak buku usang
Berdebu atau rapuhpun tak kau pandang

Raut muka memelas selalu tampak
Menipu semua harap yang terkuak
Remuk....
Tak peduli luka merajam
Kau siram saja dengan air garam

Ah peduli setan
Matipun tiada terbesit ingatan
Karena lupa kau pada perkataan
Terucap lama dijauhnya zaman

Ku tutup kembali
Serpihan hati yang karam lagi

(fahmi)