Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2020

Teguran




Aku tak pernah mendengar,
siang mengumbar keramaiannya,
dan malam menangisi kesunyiannya.

Aku tak pernah melihat,
matahari mengeluhkan teriknya,
dan bulan berbangga dengan keindahannya.

Aku tak pernah berjumpa,
rumput marah pada penginjaknya,
dan pohon murka pada penebangnya.

Bukankah pohon dan domba Dia berikan pakaian
karena mereka tak dapat menenun.

Ulat yang kau cacipun pada akhirnya kau puji.

Lalu, manakah yang lebih baik,
hati atau pikiranmu?
Hatimu yang kotor selalu berbangga pada pencapaianmu,
dan pikiranmu yang picik selalu memandang rendah selainmu.

Kau tahu pakaian yang kau kenakan bukan dari hasil jahitanmu.
Kau tahu nasi yang kau makan bukan dari hasil tanamanmu.

Lalu apa hebatnya kau?
Kau mengeluhkan raja siang yang menyengat kulitmu.
Kau mengeluhkan panglima malam yang mengaburkan matamu.
Bahkan kau mengeluhkan tetesan rahmat yang mengguyur tubuhmu.

Ketahuilah tempatmu,
Kaulah sang hina di balik jubah suteramu.

Bukankah Dia telah menyerumu,
agar kau tak berjalan di atas kecongkakanmu.
Atau kau telah menutup telinga,
dan membusuk dalam ketulian palsumu

(Pemalang, 15 Oktober 2019)
Fahmi

Kamis, 12 Juli 2018

Bacarai jo....




Kasiah kanduang.... 
Lupo kok kau jo diri denai, 
Denai mananti di tano jao kito basuo. 

Kasiah sibiran tulang, 
Kini lah lupo jo janji baduo, 
Lah pai jauah. 

Jan kan kaba, 
Ingek pun indak, 
Kini lah lupo jo bujang jao. 

Jo jaleh den tatahan, 
Raso kacewa jo aia mato. 

Bogor, 13 Juli 2018

Minggu, 26 November 2017

Surgawi

Ku buka kerudungmu
Tergerai tampak rambut hitammu
Bak mawar berkuntum
Pada semu ku dekap mengagum

Jemariku berlayar dari samudra ke samudra
Terbang dari mega ke mega
Untuk sampai padanya surga

Ku kecup lembut bahtera kata
Berias madu memerah muda
Padaku kau hamparkan surga
Yang tiada pernah kau buka jua

Matamu yang terus memejam
Membuat lancangku semakin mengejam
Tak hirau kau rintih lara
Pada tuan yang terus mendera

Ah... semakin hanyut aku dalam surgamu
Semakin larut aku tak menentu
Semakin ingin untukku berhenti waktu
Agar tetap aku pada surgamu

Karya : Fahmi Tb

Minggu, 19 November 2017

Melodi Duka

Aroma debu
Udara yang kering
Jemuran yang melambai
Daun yang bergesek membentuk nada

Hanya dengan memandang langit yang sama
Membuatmu seolah terasa sangat dekat

Ah benar...
Kau itu seperti kucing
Terkadang kau membelai manja kakiku
Namun tiba-tiba kau mendiamkanku

Ah...
Kau mungkin lebih mirip badai
Yang sangat susah untuk ku tebak
Tentang alasan
Membuat mataku berkabut

Karya : Fahmi Tb

Senin, 13 November 2017

Sajak Pisau


Pisau itu genit sekali
Masuk ke perutmu tanpa permisi
Merobek rahasia tersembunyi
Yang tak mau orang lain mengetahui

Pisau itu nakal sekali
Menggelitik perutmu sampai mati
Sampai tidak ku dengar lagi
Hanya merihmu menjerit sekali

Pisau itu menggoda sekali
Menggerayang perutmu amat berani
Sampai kau mati berdiri
Dicabut perih terjatuh lagi

Pisau itu genit sekali

Karya : Fahmi Tb

Minggu, 12 November 2017

Cinta

Saat kau tak mampu berucap banyak
Saat itulah kau mengenal cinta

Cinta itu liar
Namun tak mekar dalam rengkuhan belukar liar
Melainkan semaian benih
Yang selalu butuh siraman kasih

Saat cinta membawamu terbang
Sejauh yang tak bisa kau pandang
Biarkan sayapnya mengantarmu
Pada segumpal putih di langit biru

Karya : Fahmi Tb

Sabtu, 11 November 2017

Penantian



Di ujung lembayung senja kelabu
Lamunan berhenti pada bayangmu
Bayang yang menjadi mimpi
Pada hati yang menanti

Di gelapnya temaram bulan
Lamunan jatuh pada pujaan
Sosok yang melekat dalam jiwa
Bersama rindu yang kian mendera

Di hangat terbitnya sang surya
Fikiranku masih tentang cinta
Cinta yang tiada akan redup
Menjadi angan paruhan hidup

Kamu kamu kamu ya kamu
Sosok cinta yang telah ku temu
Yang mendera seluruh hatiku
Oleh kabut yang menutupmu dari pertemuanku

Karya : Fahmi Tb

Senja

Aku di sini bersimpuh
Memandangi gugur daun (oleh dosa di siang terik)
Jemariku tak lelah mengais
Serpihan ampunan yang terhambur oleh angin senja
Temaram cahaya matahari
Mulai menghilang saat iqrakku berteriak
"Oh Tuhan ampuni ... ampuni!"
Redup mengantar nafasku
Pada penyesalan senja
Yang tak berujung

Karya : Fahmi Tb

Takdir

Wajahnya memerah
Jarinya masih malu merangkai
Jiwanya lahir di ujung kembang tersenyum
Aromanya menyiram
Terasa bagai subuh menusuk hati

Ingin kubuka rangkaian takdir
Apakah ada kiranya namaku tertulis
Entahlah ...
Yang ku tahu
Di bukunya tidak ada namaku

Karya : Fahmi Tb